Artikel

10 SIFAT KIMIA TANAH Hingga Penjelasannya

Sifat kimia tanah merupakan karakteristik fisik yang dihasilkan oleh perbedaan pengaruh dari  berbagai faktor pembentukan tanah. Karakteristik fisik tanah yang berupa sifat...

Written by andra · 5 min read >

Sifat kimia tanah merupakan karakteristik fisik yang dihasilkan oleh perbedaan pengaruh dari  berbagai faktor pembentukan tanah. Karakteristik fisik tanah yang berupa sifat biologi, sifak fisika dan sifat kimia tanah ini sangat berpengaruh terhadap kesuburan suatu tanah.

Sifat Kimia Tanah

Sifat kimia tanah berperan penting dalam menentukan sifat dasar tanah serta perilaku bahan kimia yang ditambahkan di dalam tanah.

Beberapa sifat kimia tanah dapat menunjukkan apakah suatu tanah merupakan tanah yang subur dan potensial. Sifat-sifat kimia yang dimilki tanah juga mampu menahan unsur hara dan menyediakan untuk pertumbuhan tanaman.

Sifat Sifat Kimia Tanah

sifat kimia tanah
slideshare.net

Beberapa sifat kimia tanah antara lain :

  1. Kemasaman Tanah (pH Tanah)
  2. Bahan Organik ( C Organik)
  3. Kapasitas Tukar Kation (KTK)
  4. Nitrogen (N-Total)
  5. Fosfor (P-Bray)
  6. Kalium (K)
  7. Natrium (Na)
  8. Kalsium (Ca)
  9. Magnesium (Mg)
  10. Kejenuhan Basa (KB)

1. Kemasaman Tanah  (pH Tanah)

Reaksi tanah adalah parameter tanah yang menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang derajadnya dinyatakan oleh kadar ion hidrogen dalam larutan tanah (nilai pH).

Reaksi tanah (nilai pH) menunjukkan banyaknya konsentrasi ion Hidrogen (H+) dalam larutan tanah, yang dinyatakan sebagai – log (H+). Semakin tinggi kadar ion hidrogen di dalam tanah, maka semakin masam pula tanah tersebut.

Secara umum,  sebagian besar tanah memiliki pH antara 5 – 8. Untuk daerah rawa-rawa pH = 3, sementara daerah pantai pH = 9.

Disamping ion Hidrogen (H+), di dalam tanah juga terdapat ion OH-, yang mana jumlahnya berbanding terbalik dengan H+.  Dengan demikian, pH tanah dapat dinyatakan sebagai berikut :

  • Tanah Masam : jumlah ion H+ >  ion OH-
  • Tanah Netral :  jumlah ion H+  =  ion OH-
  • Tanah Alkalis :  jumlah ion H+  < ion OH-

Peranan penting pH tanah :

  • Penentuan kandungan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan oleh tanaman, contohnya : N, K dan P.
  • Menunjukkan adanya unsur beracun
  • Mempengaruhi reaksi kimia ion-ion dalam tanah
  • Mempengaruhi perkembangan MO

2. Bahan Organik (C-Organik)

Kandungan bahan organik di dalam tanah merupakan kunci utama yang berperan penting dalam keberhasilan panen. Kandungan bahan organik  mampu meningkatkan kesuburan tanah, baik dari secara fisik, kimia maupun biologi.  Penetapan kandungan bahan organik dalam tanah dilakukan berdasarkan jumlah C-Organik.

C-Organik merupakan pernyusun utama bahan organik. Bahan organik sendiri terdiri dari sisa tanaman dan hewan dari berbagai tingkat dekomposisi. Sehingga, kandungan C-Organik yang rendah merupakan indikator rendahnya jumlah bahan organik yang tersedia dalam tanah.

Bahan organik tanah juga sangat menentukan interaksi antara komponen abiotik dan biotik dalam ekosistem tanah.

Musthofa (2007), menyatakan bahwa  kandungan bahan organik dalam bentuk C-Organik di dalam tanah harus dipertahankan minimal sebesar 2 %. Agar kandungan bahan organik di dalam tanah tidak menurun seiring berjalannya waktu akibat proses dekomposisi mineralisasi, maka saat pengolahan tanah berlangsung harus diberikan penambahan bahan organik setiap tahun.

Kandungan bahan organik di dalam tanah juga sangat erat berkaitan dengan KTK (Kapasitas Tukar Kation) dan mampu meningkatkan KTK Tanah. Tanpa adanya penambahan bahan organik, maka dapat menyebabkan degradasi kimia, fisik, dan biologi tanah yang dapat merusak agregat tanah dan mengakibatkan pemadatan tanah.

3. Kapasitas Tukar Kation (KTK)

Kapasitas Tukar Kation (KTK) adalah jumlah muatan positif dari kation yang diserap koloid tanah pada pH tertentu. Kapasitas tukar kation merupakan salah sifat kimia yang memiliki hubungan erat dengan kesuburan tanah.

Pada tanah dengan nilai KTK relatif rendah, proses penyerapan unsur hara oleh koloid tanah tidak berlangsung  relative, sehingga unsur-unsur hara akan dengan mudah tercuci dan hilang bersama gerakan air di tanah (infiltrasi, perkolasi).  Dan selanjutnya hara tidak tersedia dan memenuhi kebutuhan pertumbuhan tanaman.

(Hardjowegono, 2003), mengemukakan bahwa tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi memiliki KTK lebih tinggi dibanding dengan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah berpasir.

Nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah sangat beragam dan tergantung pada sifat dan ciri tanah yang bersangkutan. Besar kecilnya KTK dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain :

  • Reaksi tanah
  • Tekstur atau jumlah liat
  • Jenis mineral liat
  • Bahan organik dan
  • Pengapuran serta pemupukan

(Soepardi, 1983 ) bahwa kapasitas tukar kation tanah sangat beragam, karena jumlah humus dan liat serta jenis liat yang terdapat dalam tanah berbeda-beda pula.

4. Nitrogen (N-Total)

(Mawardiana, 2013), Nitrogen merupakan salah satu unsur hara esensial yang bersifat sangat mobile, baik di dalam tanah maupun di dalam tanaman.

(Hanafiah, 2005), Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial yang menyusun sekitar 1,5%  bobot tanaman dan berfungsi terutama dalam pembentukan protein.

(Hardjowigeno, 2003), Nitrogen di dalam tanah berasal dari :

  • Bahan organik tanah : bahan organik halus dan bahan organik kasar
  • Pengikatan oleh mikroorganisme dari N udara
  • Pupuk
  • Air Hujan

Sumber N berasal dari atmosfer sebagai sumber primer, sementara yang lain berasal dari aktifitas di dalam tanah sebagai sumber sekunder.

Nitrogen  bersifat sangat mudah larut dan mudah hilang ke atmosfer maupun air pengairan. Kekurangan unsur nitrogen pada tanaman akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak optimal dan menurunkan produktivitasnya.

Penurunan jumlah nitrogen di dalam tanah dipengaruhi oleh penurunan jumlah bahan organik, penggunaan untuk metabolism tanaman dan mikroorganisme tanah di lokasi tersebut.

(Hardjowigeno, 2003), pada umumnya kandungan  N total sekitar 2000 – 4000 kg/ha pada lapisan 0 -20 cm, yang mana tersedia bagi tanaman banya kurang 3% dari jumlah tersebut. (RAM,2007), manfaat dari nitrogen yaitu untuk memacu pertumbuhan tanaman pada fase vegetative, serta berperan dalam pembentukan klorofil, asam amino, lemak , enzim dan beberapa senyawa lain.

Nitrogen terkandung di dalam tanah berbentuk organik dan anorganik. Bentuk bentuk organik meliputi : NH4, NO3, NO2, dan unsur H. Tanaman menyerap unsur ini khususnya dalam bentuk NO3, akan tetapi bentuk lain yang juga mampu menyerap adalah NH4 dan urea (CO(N2))2 dalam bentuk NO3.

Kemudian dalam siklusnya, nitrogen organik di dalam tanah mengalami mineralisasi, sementara bahan mineral mengalami imobilisasi. Sebagian N terangkut, dan sebagian lagi kembali sebagai residu tanaman, yang hilang ke atmosfer dan hilang kembali lagi. Hilang ini disebabkan pencucian dan bertambah lagi melalui pemupukan.

5. Fosfor ( P-Total)

(Hardjowigeno, 2003)- Unsur Fosfor (P) di dalam tanah berasal dari bahan organik, pupuk  buatan dan mineral-mineral di dalam tanah. Unsur fosfor paling mudah diserap oleh tanaman pada pH berkisar antara 6 -7.

(Hanafiah, 2005), menyatakan bahwa dalam siklus P menunjukkan bahwa kadar P-larutan merupakan hasil keseimbangan antara supply dari pelapukan mineral-mineral P, pelarutan (solubilitas) P-terfiksasi dan mineralisasi P-organik serta kehilangan P berupa immobilisasi oleh tanaman fiksasi dan pelindian.

Menurut Leiwakabessy(1988), di dalam tanah terkandung dua jenis fosfor  yaitu fosfor organik dan fosfor anorganik. Biasanya fosfor organik banyak terdapat di lapisan atas yang lebih kaya akan bahan organik. Kadar P organik dalam bahan organik kurang lebih sama kadarnya dalam tanaman, yakni sebesar 0,2 – 0,5%.

(Hanafiah, 2005), Tanah-tanah yang berumur tua di Indonesia (podsolik dan litosol), biasanya berkadar alami P rendah dan berdaya fiksasi tinggi, sehingga penanaman tanpa memperhatikan suplai P dapat menyebabkan gagal akibat defisiensi P.

Rendahnya kandungan P di dalam tanah, dapat disebabkan oleh kurangnya kurangnya bahan organik hasil dekomposisi yang membuat kurangnya ketersediaan humus yang mensuppy P. Beberapa faktor lain yang dapat menghamba ketersediaan P adalah kegiatan organisme yang kurang maksimal, pH tanah yang relatif asam dan alkalis, serta jumlah dan dekomposisi bahan organik yang sedikit.

6. Kalium (K – Total)

Kalium  merupakan unsur hara ketiga setelah Nitrogen dan Fosfor yang diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+. Muatan positif dari Kalium akan membantu menetralisir muatan listrik yang diakibatkan oleh muatan negative Nitrat, Fosfat atau unsur yang lainnya (Utami, 2009)

Sumber utama K di dalam tanah yaitu mineral feldspar (orthoklas, sanidin), sehingga terdapatnya kandungan mineral tersebut di dalam tanah menunjukkan adanya sumber K (Prasetyo, B.H., 2007).

Pembentukan kalium tanah dari proses pelapukan batuan dan mineral-mineral yang mengandung kalium. Melalui proses dekomposisi bahan tanaman dan jasad renik, maka kalium akan larut dan kembali ke dalam tanah. Kemudian sebagian besar kalium yang larut akan tercuci atau tererosi, serta proses kehilangan ini akan dipercepat lagi oleh serapan tanaman dan jasad renik.

7. Natrium (Na)

Natrium merupakan unsur penyusun lithosfer keenam setelah Ca, yaitu sebesar 2,75% yang memiliki peran penting dalam menentukan karakteristik tanah dan pertumbuhan tanaman. Sebagian besar tanaman-tanaman tersebut tumbuh di daerah kering dan agak kering yang berdekatan dengan pantai, karena tingginya kadar Na di laut.

Sebuah tanah dinamakan dengan tanah Alkali bila KTK atau muatan negative koloid-koloidnya dijenuhi oleh lebih banyak sama dengan 15% Na, yang menunjukkan bahwa unsur ini merupakan komponen utama dari garam-garam larut yang ada.

Pada tanah tersebut sumber utama dari minera adalah halit (NaCl). Kelompok tanah alkalin ini disebut tanah halomorfik, yang secara umum terbentuk di daerah pesisir pantai iklim kering dan berdrainase kurang baik.

Seperti halnya unsur mikro, Na juga bersifat toksik bagi tanaman bila terdapat dalam tanah dalam jumlah yang sedikit berlebihan (Hanafiah, 2005).

8. Kalsium (Ca)

(Leiwakabessy, 1988)- Kalsium termasuk ke dalam golongan unsur mineral esensial sekunder seperti Maganesium dan Belerang. Ca2+ dalam larutan dapat habis akibat diserap tanaman, diambil jasad renik, terikat oleh kompleks adsorpi tanah dan mengendap kembali sebagai endapan-endapan sekunder dan tercuci.

Manfaat yang dimiliki oleh kalsium adalah mengaktifkan pembentukan bulu-bulu akar dan biji, serta menguatkan batan dan membantu keberhasilan penyerbukan, membantu pemecahan sel dan membantu aktivitas beberapa enzim (RAM, 2007).

9. Magnesium (Mg)

Magnesium merupakan salah satu unsur pembentuk klorofil. Sebagaimana dengan unsur hara lain, kekurangan magnesium dapat mengakibatkan perubahan warna yang khas pada daun. Tak jarang pengguguran daun sebelum waktunya merupakan akibat dari kekurangan magnesium (Hanafiah, 2005).

10. Kejenuhan Basa (KB)

Kejenuhan basa merupakan  perbandingan dari jumlah kation basa yang ditukarkan dengan kapasitas tukar kation (KTK)  yang  dinyatakan dalam persen. Kejenuhan basa yang rendah mengindikasikan bahwa kemasaman tanah tinggi dan kejenuhan basa mendekati 100%, tanah bersifat Alkalis.

Terdapat hubungan yang positif antara kejenuhan basa dengan pH tanah. Namun, hubungan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh sifat koloid dalam tanah dan kation-kation yang diserap. Tanah dengan kejenuhan basa yang sama dan komposisi koloid yang berlainan, maka akan memberiukan nilai pH  tanah yang berbeda pula. Hal ini dikarenakan oleh perbedaan derajat disosiasi ion H+ yang diserap oleh permukaan koloid.

Demikianlah pemaparan sifat sifat kimia tanah yang kami rangkum dari beberapa sumber. Semoga artikel di atas dapat bermanfaat……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *