Artikel

Kesesuaian Lahan dan Evaluasi Kesesuaian Lahan

Kesesuaian lahan sangatlah penting sebagai acuan dasar dalam pengggunaan lahan, agar hasil pertanian maksimal dan tidak merusak sumber daya lahan.  Oleh karena...

Written by andra · 4 min read >
evaluasi kesesuaian lahan

Kesesuaian lahan sangatlah penting sebagai acuan dasar dalam pengggunaan lahan, agar hasil pertanian maksimal dan tidak merusak sumber daya lahan.  Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi kesesuaian lahan yang bertujuan untuk mengetahui satu penggunaan lahan yang tepat untuk satu kondisi lahan, sehingga dapat mengoptimalkan produktivitas lahan tersebut.

Pengertian Kesesuaian Lahan

Kesesuaian lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu. (Soemarno, 2006 : 6). Misalnya adalah sebidang lahan yang sesuai untuk usaha irigasi, tambak, pertanian tanaman tahunan atau pertanian tanaman semusim.

Kesesuaian lahan tersebut dapat dinilai untuk kondisi saat ini (kesesuaian lahan aktual) atau setelah dilakukan perbaikan (kesesuaian lahan potensial).

  • Kesesuaian lahan aktual adalah kesesuaian lahan saat ini yang berdasarkan data sifat biofisik tanah atau sumber daya lahan sebelum lahan tersebut dilakukan usaha perbaikan untuk mengatasi kendala. Data biofisik tersebut berupa karakteristik tanah dan iklim yang berhubungan dengan kriteria tumbuh tanaman yang dievaluasi.
  • Kesesuaian lahan potensial adalah kesesuaian lahan yang akan didapatkan setelah dilakukan sejumlah usaha-usaha perbaikan lahan. Dimana lahan yang akan dievaluasi berupa hutan konversi, lahan terlantar atau tidak produktif namun masih memungkinkan untuk dapat dioptimalkan.

Evaluasi Kesesuaian Lahan

Husein, 1981

Evaluasi kesesuaian lahan adalah upaya untuk mengelompokkan tanah-tanah tertentu yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Sitorus , 1998

Evaluasi lahan merupakan proses pendugaan potensi sumber daya lahan untuk berbagai kegunaan dengan cara membandingkan persyaratan yang diperlukan untuk suatu penggunaan lahan dengan sifat sumber daya yang ada pada lahan tersebut.

Evaluasi kesesuaian lahan adalah salah satu instrument yang dapat digunakan dalam penilaian kesesuaian lahan untuk berbagai penggunaan lahan  dengan menggunakan suatu pendekatan atau cara yang telah teruji. Hasil evaluasi lahan tersebut akan menunjukkan sejumlah informasi  ataupun arahan penggunaan lahan sesuai dengan keperluan.

Beberapa parameter yang dapat digunakan dalam menilai suatu lahan adalah sifat fisik dan kualitatif lingkungan serta sosial ekonomi.

1. Tanah

Arsyad (1985), menyatakan bahwa tanah memiliki dua fungsi utama, adalah sebagai berikut :

  • Sebagai sumber unsur hara bagi tanaman
  • Sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar, air tanah tersimpan dan tempat unsur-unsur hara dan air ditambahkan.

Kedua fungsi di atas dapat habis atau hilang disebabkan oleh kerusakan tanah. Hilangnya fungsi pertama dapat diperbaiki dengan melakukan pemupukan, namun hilangnya fungsi kedua tidak mudah untuk diperbaharui.

2. Iklim

Iklim merupakan instrument yang paling berpengaruh terhadap usaha pertanian dan terkadang menjadi faktor penghambat utama di samping faktor-faktor lainnya.  Iklim sangat berpengaruh terhadap tanah, tanaman, dan hama atau penyakit tanaman (Kartasapoetra dan Sutedjo, 1985).

Sandy (1977), mengemukakan bahwa unsur iklim yang berpengaruh terhadap penggunaan tanah adalah suhu dan curah hujan. Suhu (temperature) ditentukan oleh perbedaan tinggi suatu wilayah, sementara curah hujan ditentukan oleh intensitas dan distribusinya.

3. Topografi

Ketinggian di atas permukaan laut, panjang dan derajat kemiringan lereng dan posisi bentang lahan merupakan faktor topografi yang sangat penting dalam evaluasi atau penilaian kesesuaian lahan.  Faktor faktor topografi tersebut berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kualitas tanah.

Disamping itu faktor topografi ini juga berpengaruh terhadap kemungkinan bahaya erosi atau mudah tidaknya diusahakan, demikian pula didalam program mekanisme pertanian.

4. Vegetasi

Salah satu unsur lahan yang dapat berkembang secara alami atau hasil dari aktifitas manusia adalah vegetasi, baik vegetasi pada masa lalu atau masa kini. Vegetasi dapat digunakan  sebagai pedoman untuk mengetahui potensi  lahan atau kesesuaian lahan bagi suatu penggunaan tertentu melalui adanya tumbuhan atau tanaman sebagai indicator (Sitorus, 1989).

5. Sosial Ekonomi

Sitorus (1989)  juga menyatakan, tiga masalah utama dalam menggunakan data sosial ekonomi unuk evaluasi kesesuaian lahan, antara lain :

  1. Penilaian lahan mungkin tidak mengetahui secara tepat nomenklatur dan konsep ekonomi;
  2. Data ekonomi yang tersedia biasanya didasarkan atas kerangka yang berbeda dari informasi-informasi lainnya;
  3. Faktor-faktor ekonomi yang selalu berubah-ubah.

Dengan berbagai alasan di atas, maka hampir sebagian besar sistem evaluasi kesesuaian lahan mencoba menghindari pertimbangan faktor sosial dalam kegiatan pengevaluasian lahan.

Klasifikasi Kesesuaian Lahan

klasifikasi kesesuaian lahan
slideshare.net

Klasifikasi kesesuaian lahan adalah suatu penafsiran dan pengelompokkan lahan yang memiliki tipe khusus dalam kesesuaian secara mutlak atau relative untuk suatu jenis penggunaan tertentu. (FAO, 1976 dalam Sitorus , 1985).

Struktur dan sistem klasifikasi kesesuaian lahan menurut kerangka FAO dapat dibedakan berdasarkan tingkatannya, yaitu Ordo, Kelas, Subkelas dan Unit.

  1. Ordo : Menunjukkan jenis/macam kesesuaian lahan atau kondisi kesesuaian lahan secara umum / global.
  2. Kelas : menunjukkan tingkat kesesuaian lahan dalam ordo.
  3. Sub-Kelas : menunjukkan jenis pembatas lahan atau jenis perbaikan yang diperlukan didalam kelas.
  4. Unit : Menunjukkan perbedaan-perbedaan kecil yang diperlukan dalam pengelolaan di dalam sub-kelas.

Pembatas lahan adalah penyimpangan dari kondisi optimal karakteristik dan kualitas lahan, dan yang dapat memberikan pengaruh buruk untuk berbagai penggunaan lahan.

1. Ordo

Kesesuaian lahan pada tingkat ordo menunjukkan mengenai sesuai atau tidaknya sebuah lahan untuk suatu penggunaan tertentu.  Tingkatan Ordo dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

  • Ordo S      : Sesuai (Suitable)

Lahan yang tergolong dalam ordo ini merupakan lahan yang dapat digunakan untuk suatu penggunakan tertentu secara lestari, tanpa atau dengan sedikit resiko kerusakan terhadap sumber daya lahannya. Keuntungan yang diharapkan dari hasil pemanfaatan lahan ini dapat melebihi dari masukan yang diberikan.

  • Ordo N  : Tidak Sesuai (Not Suitable)

Lahan yang tergolong dalam ordo ini memiliki pembatas yang sedemikian rupa sehingga mencegah suatu penggunaan secara lestari.

2. Kelas

Kelas kesesuaian lahan adalah pengklasifikasian lebih lanjut dari ordo dan menggambarkan tingkat-tingkat kesesuaian dari ordo. Lahan yang tergolong dalam Ordo sesuai (S), terbagi menjadi tiga kelas. Sementara lahan yang tergolong Ordo tidak sesuai (N), terbagi menjadi dua kelas.

  • Kelas S1 :  Sangat Sesuai

Lahan ini tidak memiliki pembatas yang berat untuk suatu penggunaan secara lestari atau hanya memiliki pembatas yang tidak berarti dan tidak berpengaruh nyata terhadap produksinya. Serta tidak akan mampu menaikkan masukan dari apa yang telah biasa diberikan.

  • Kelas S2  : Cukup Sesuai

Lahan ini merupakan lahan yang tergolong memiliki pembatas-pembatas yang cukup berat untuk suatu penggunaan yang lestari. Pembatas akan mempengaruhi produktivitasnya dan memerlukan kenaikan masukan (input). Pembatas tersebut umumnya dapat diatasi oleh petani sendiri.

  • Kelas S3 : Sesuai Marjinal

Lahan ini memiliki pembatas-pembatas yang berat untuk suatu penggunaan yang lestari. Pembatas akan mengurangi produktivitas atau keuntungan, dan perlu menaikkan masukan yang diperlukan ( atau lebih banyak dari lahan kelas S2). Untuk mengatasi pembatas ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi, biasanya dengan campur tangan pemerintah atau pihak swasta.

  • Kelas N1 : Tidak Sesuai Pada Saat Ini

Lahan ini merupakan lahan yang memiliki pembatas yang sangat berat, namun demikian masih memungkinkan untuk diatasi. Hanya saja tidak mampu diperbaiki dengan tingkata pengetahuan saat ini dengan biaya yang rasional.

  • Kelas N2  : Tidak Sesuai Selamanya

Lahan ini memiliki pembatas yang sangat berat dan permanen sehingga tidak mungkin untuk penggunaan lahan.

Sub-Kelas

Subkelas adalah keadaan tingkatan dalam kelas kesesuaian lahan yang menggambarkan jenis  faktor pembatas. Sub-kelas dilambangkan oleh huruf jenis pembatas yang ditempatkan setelah symbol S2, S3 atau N.  Sementara pada S2 tidak memiliki sub-kelas karena tidak memiliki faktor pembatas lahan.

Beberapa jenis pembatas lahan yang menentukan sub-kelas kesesuaian lahan, antara lain :

  • Pembatas iklim (c)
  • Pembatas topografi (t)
  • Pembatas keabsahan (w)
  • Pembatas faktor fisik tanah (s)
  • Pembatas faktor kesuburan tanah (f)
  • Pembatas salinitas dan alkalinitas (n)

Misalnya adalah sub-kelas S3c, sesuai marginal dengan pembatas iklim.

Unit atau Satuan Kesesuaian Lahan

Unit adalah keadaan tingkatan dalam sub-kelas kesesuaian lahan, yang didasarkan pada sifat tambahan yang berpengaruh dalam pengelolaannya. Dalam penyelenggarakan evaluasi kesesuaian lahan, tingkatan unit ini sudah jarang sekali digunakan.

Metode Pendekatan Evaluasi Kesesuaian Lahan

Ada tiga jenis metode pendekatan yang dapat digunakan dalam kegiatan evaluasi kesesuaian lahan, yaitu:

1. Pendekatan Pembatas

Pendekatan pembatas adalah suatu metode untuk menggambarkan kondisi lahan atau karakteristik lahan pada tingkat kelas. Pada metode ini membagi lahan berdasarkan jumlah dan intensitas pembatas lahan.

Metode ini membagi tingkat pembatas lahan ke dalam empat tingkatan, antara lain :

  • 0 (Tanpa Pembatas), digolongkan ke dalam S1
  • 1 (Pembatas Ringan), digolongkan ke dalam S1
  • 2 (Pembatas Sedang), digolongkan ke dalam S2
  • 3 (Pembatas Berat), digolongkan ke dalam S3
  • 4 (Pembatas Sangat Berat), digolongkan ke dalam N1 dan N2.

2. Pendekatan Parametrik

Pendekatan parametrik dalam evaluasi kesesuaian lahan adalah pemberian nilai atau skor pada tingkat pembatas yang berbeda pada sifat lahan. Dimana dalam skala normal mendapat nilai maksimum 100 hingga nilai minimum 0. Nilai 100 diberikan bila lahan bersifat optimal untuk suatu penggunaan lahan yang dipertimbangkan.

Beberapa kelebihan dari pendekatan parametrik adalah :

  • Kriteria yang dapat dikuantitatifkan dan dapat dipilih sehingga memungkinkan data objektif;
  • Keandalan dan kemampuan untuk direproduksikan dan ketepatannya tinggi.

Adapun masalah yang mungkin timbul dalam pendekatan parametrik yaitu dalam hal pemilihan sifat, penarikan batas-batas kelas, waktu yang diperlukan untuk mengkuantitatifkan sifat serta kenyataan bahwa masing-masing klasifikasi hanya diperuntukkan bagi penggunaan lahan tertentu.

3. Kombinasi Pendekatan Pembatas dan Parametrik

Metode ini merupakan kombinasi dari pendekatan pembatas dan parameterik, yang mana sering digunakan untuk menentukan kelas kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu.

Penentuan kelas kesesuaiannya dilakukan dengan cara memberikan bobot atau harkat berdasarkan nilai kesetaraan tertentu, dan menentukan tingkat pembatas lahan yang dicirikan oleh bobot terkecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *